Tidak Bisa Kembali

IMG_20170507_182112_796.jpg

“Lepaskan saja…”

“Iya nih, entah apa yang membuatnya terus terikat pada kota sebelumnya, padahal kalau dia melepasnya… pasti perjalanannya akan lebih ringan”

“Dan kalau dia ini melepasnya, tidak akan mudah lelah… dan gampang sakit lagi”

Aku hanya mengangkat bahu mendengar dua sahabat pria ini bersahut-sahutan membahas diriku. Tidak tahu harus menjawab apa.

Menurutku manusia itu memang mahluk aneh, karena tubuh dan pikirannya bisa terpisah jarak. Aku jelas-jelas sudah berada di kaki gunung lawu yang jaraknya ratusan kilometer dari rumah dan lingkungan sebelumnya, tetapi pikiranku terkadang  masih mengembara entah dimana. Padahal aku tahu, tidak ada yang bisa kumiliki kembali jika kembali pulang.

Sekalinya keputusan diambil, maka keseluruhan resiko akan mengikutinya, itu yang aku pahami dari kecil.

Anggukanku saat bapak berpamitan dan ternyata tidak pernah kembali pulang.

Anggukanku saat nenek mengatakan uangnya tak cukup untuk membiayai sekolahku selanjutnya.

Anggukanku saat aku harus keluar rumah dan memulai perjalanan berikutnya di kota yang sama sekali tak ku kenal.

Anggukanku saat aku menanggapi uluran tangan ‘Penuntun Hidup’ di saat  aku berada di ambang batas kegilaan.

Anggukanku saat menerima pekerjaan pertama yang sama sekali tak kubayangkan sebelumnya, memasak.

Disusul kemudian anggukan untuk menjadi waiters, baby sitter, pembantu rumah tangga, tukang ketik skripsi, admin toko, tukang foto copy, crew eo, sekretaris harian sampai sekretaris kontingen, hingga tukang ribet operasional yang paling dicari kepalanya di perusahaan.

Anggukan-anggukan berikutnya untuk setiap pergantian pekerjaan itu kulakukan dengan sepenuh hati karena proses pembelajaran menjadi begitu mahal artinya.

Aku tak pernah membayangkan kalau setiap anggukan berarti perjalanan berikutnya dimulai dan tidak memiliki jalan untuk kembali.

Bahkan untuk anggukan yang kulakukan 1,5 tahun lalu pada pekerjaan ini. Mengawali sesuatu yang sama sekali baru di usia yang kebanyakan orang memilih untuk tinggal tetap di pekerjaan yang telah mapan. Aku justru memilih yang sebaliknya. Melepaskan segala sesuatu yang melekat padaku, dan beranjak pada ke-tidak-nyaman-an.

“Mungkin aku memang gila!” kataku saat orang berkomentar menanggapi anggukan itu

Anggukanku yang terakhir ini berarti mengawali petualangan dengan wilayah yang membentang luas dan sangat sulit. Bertemu dengan wajah yang sama sekali tak kukenal sebelumnya. Belajar semua hal di satu waktu bersamaan dengan menaati perintah, dan juga mengambil keputusan.

“Kamu itu tangguh!” kata seorang pria yang baru saja ku rekrut satu minggu lalu

“Aku tidak tangguh, hanya terkadang tidak mempunyai kata pengganti selain menjalaninya saja” jawabku singkat

…perjalanan ini masih berlanjut, dan aku tidak bisa kembali.

They say it only takes a little faith
To move a mountain
Well good thing
A little faith is all I have, right now
But God, when You choose
To leave mountains unmovable
Oh give me the strength to be able to sing
It is well with my soul
(Even if – Mercy Me)

~ ie 07/05/2017

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s