Awalnya

Bagaimana asal mulanya? Prosesnya seperti apa? Apa saja yang kamu alami? Bagaimana melewatinya? Apakah sekarang sudah hilang, sudah bersih? Sempat botak? Apa benar terasa panas dan seperti diracun waktu kemo? Dan banyak lagi pertanyaan lain yang ditujukan padaku.

Untunglah aku sekarang sudah banyak tertawa, jadi nggak panik dengan pertanyaan serupa itu.

Baiklah, mungkin memang perlu diteruskan prosesnya, karena aku belum mampu jika sharing face to face dengan satu, dua atau lebih banyak orang. Menuliskannya membuatku lebih nyaman karena seperti berkata kata dengan diriku sendiri.

Aku akan menceritakannya dengan bahasaku sendiri, asumsi, pendapat, pemikiran yang berasal dari diriku sendiri. Kasus berbeda pada setiap orang, dan ceritaku tak dapat dijadikan acuan bagi proses pengobatan. Karena seperti biasanya, aku menulis lebih untuk menyembuhkan diriku sendiri.

Rasanya asik juga jika aku menyertakan foto foto di sini.

Oke, aku mulai.

Juli – Agustus 2017. Awalnya benjolan itu muncul di payudara sebelah kanan, teraba jelas, dan terasa olehku saat berdiameter sekitar 2cm atau lebih. Tak berpindah tempat, dan beberapa saat sekitar 2 bulan kemudian terasa ‘sedikit nyeri’ waktu disentuh.

Tak ada keluhan lain yang kurasakan selain sedikit mudah lelah dan masuk angin. Aku memang  banyak pikiran waktu itu, dan mungkin juga sedikit depresi karena berbagai hal. Aku sering tidur tengah malam dan kurang nyenyak, serta menurun kualitas asupan makannya. Hubungan antar personal yang buruk, stress, dan kurang asupan makanan berkualitas yang baik kurasa menjadi pemicu kelelahan, yang berakibat pada mens yang terus menerus menggila (selang 10 hari sekali). Aku telah membawanya ke dokter kandungan namun resepnya hanya bahagia.

Ha ha ha… dan kurasa aku melewatkan nasehat itu.

Aku menunggu benjolan itu hilang sekitar 1 – 2 bulan dengan perasaan cemas. Ada sesuatu yang ‘menakutkan, menggelisahkan’ yang tak bisa kukendalikan.

Akhirnya  aku mendatangi dokter bedah 1 untuk memeriksakan benjolan itu. Dokter berkata “ini hanya FAM / tumor jinak, masih berpindah, dan aman. Tapi sebaiknya segera diambil untuk diperiksa”

Hmm… baiklah! Ku urus rujukan supaya bisa ditanggung oleh BPJS. Aku masih sepenuhnya berprasangka baik terhadap semua hal. Bahwa ini baik-baik saja, ini hanya semacam tumor jinak seperti yang dialami banyak orang.

Aku ke PUSKESMAS untuk Faskes Tk 1, dan kemudian ke RS tipe A untuk faskes 2.

Dokter di Faskes 2 juga masih berprasangka baik terhadap benjolan itu, apalagi aku tak punya riwayat keluarga yang menderita cancer.

Datang di hari itu, dan langsung dioperasi hari itu juga. Hanya diambil benjolannya saja, tidak masektomi atau yang lainnya karena keluhanku ya cuma itu. Di hari hari selanjutnya tak ku sesali hal ini, meskipun sempat bertanya tanya kenapa aku tidak urut seperti pasien cancer lainnya.

Aku tak pernah mengalami operasi apapun sebelumnya, jadi rasa setelah operasi itu tak terbayangkan sama sekali. Hmmm… seperti “kakap fillet” jawabku pada rekan2 yang menjenguk setelah aku sadar.

Perih, tapi tak seperih patah hati!

Aku hanya semalam di RS, dan kemudian beristirahat 4 hari di rumah, sambil menunggu hasil lab PA yang kuyakini baik baik saja.

20171017_112230

sesaat sebelum operasi, aku dan kedua sobatku ini malah asik selfi2an

 

Bersambung

 

 

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s